Jika anak Anda suatu ketika terlihat hiperaktif, di lain waktu seperti sulit memusatkan perhatian, bahkan impulsif atau kerap bertindak tanpa pikir, maka sebaiknya Anda waspada.

Itulah beberapa gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Hal itu terungkap dalam sebuah acara seminar bertajuk “Deteksi Dini ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) Pada Anak” yang digelar Global Centre Consulting Psychology pada Februari silam di Medical Center LOTTE Shopping Avenue.

 

dr. Dharmawan A. Purnama, Sp.KJ bersama peserta seminar ADHD

 

Penyebab pasti ADHD belum diketahui secara pasti, namun para peneliti memusatkan objek penelitiannya pada kinerja dan perkembangan otak.

Selain itu, terdapat tiga faktor yang dianggap mempengaruhi kondisi ADHD, yaitu, faktor genetik/keturunan, ketidakseimbangan kimiawi pada otak (neurotransmitter), dan kinerja otak yang mengontrol perhatian tampak tidak terlalu aktif, dibandingkan dengan anak-anak lainnya.

Walaupun kondisi ini tidak bisa disembuhkan, namun dapat dikontrol dengan terapi.

Bentuk terapi yang diberikan bisa berupa pelatihan kemampuan sosial, modifikasi tingkah laku (behavior), dan juga terapi kognitif.

Menurut  dr. Dharmawan A. Purnama, Sp.KJ selaku pembicara utama, “Terapi yang perlu diterapkan pada penderita ADHD harus dilakukan secara menyeluruh, melibatkan orangtua, guru sampai lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita.”

Dokter yang juga penulis buku Lebih jauh tentang ADHD & Gangguan Belajar pada Anak menuturkan obat yang sering diberikan oleh dokter biasanya berupa stimulan, yang berguna untuk mengontrol sikap hiperaktif dan impulsif pada anak, serta meningkatkan fokus atau perhatian.